Mengenang Janji Manis Jokowi
NUSANTARANEWS, Jakarta – Pada saat Kampanye Pilpres 2014, Jokowi berjanji secara lisan, tidak akan impor pangan. Dikatakan, kebijakan impor segala bahan pangan memang bisa menjamin ketersediaan. Namun, kebijakan itu berdampak buruk, karena menjauhkan negeri agraris ini dari kedaulatan pangan.
Jokowi berjanji, secepatnya menyelesaikan masalah pangan dan komoditas. Juga akan mewujudkan swasembada pangan dan lepas ketergantungan dari jeratan impor.
Jokowi juga berkampanye untuk memberantas mafia impor pangan. Namun, kini sudah lebih tiga tahun, tak satupun menteri ekonomi dan perdagangan Jokowi berani mewujudkannya. Sampai 14 paket kebijakan ekonomi tetapi tidak ada satupun kebijakan tersebut memerintahkan pengubahan tata niaga impor pangan.
Janji kampanye tertulis Jokowi dituangkan dalam dokumen Visi, Misi dan Program Aksi Jokowi Jusuf Kalla 2014. Dokumen resmi ini mencatat Jokowi dan Jusuf Kalla saat kampanye Pilpres 2014 berjanji akan mewujudkan kedaulatan pangan melalui kebijakan:
1. Perbaikan irigasi rusak dan jaringan irigasi di tiga juta hektar sawah.
2. Pembangunan satu juta hektar lahan sawah baru di luar jawa.
3. Pendirian Bank Petani dan UMKM.
4. Penyediaan gudang dgn fasilitas pengolahan pasca panen di tiap sentra produksi.
5. Pemulihan kualitas kesuburan lahan yang air irigasinya tercemar oleh limbah industri dan rumah tangga.
6. Penghentian konversi lahan produktif utk usaha lain seperti industri, perumahan dan pertambangan.
Janji terkait Nawa Cita ini masih belum terbukti dalam realitas obyektif. Rencana kebijakan hanya ada dalam konsep Nawa Cita.
Mengapa Jokowi belum berhasil menepati janji kampanye dan menciptakan swasembada pangan? Atau, mengapa Jokowi terus saja membuat keputusan impor komoditas pangan? Apakah pengaruh Mafia Impor Pangan? Pertanyaan ini tentu perlu dijawab oleh Rezim Jokowi secara akademis dan berdasarkan metode Iptek.

0 komentar:
Posting Komentar